“Wah Pakdhe penjelasannya yang mudah ya, mau menyimak ilmu baru tentang gunungapi nih”
“Lah kalau ndak jelas ya kan tinggal koment trus tanya, gitu”
Diambil tanggal 20-21 November 2010
Si Gajah Bengkak ini ketika terbawa tidak mungkin hanya sekedar
nggelundung saja. Melihat ukuran serta beratjenis batunya tentu sewaktu
terbawa disekitarnya dikelilingi oleh material-material lain beruba
kerakal, kerikil, pasir serta batuan-batuan lain yang berukuran lebih
kecil.
Telalu sulit seandainya batu ini
menggelundung saja tanpa adanya media yang membawanya. Gravitasi serta
angin jelas tidak mungkin. Awalnya kemungkinan Watu Gajah ini terkubur
sebagian, namun karena erosi menyebabkan batu ini akhirnya muncul dan
terlihat dipermukaan.
Kalau memang bener terjadinya seperti yang
disebelah kiri ini, tentusaja ini artinya proses erosinya sangat cepat.
Perubahan morfologi topografi ini memang merupakan salah satu fenomena
unik saat ini yang dapat disaksikan di sekitar hasil endapan prioklastik
Merapi. Proses yang berkembang sangat cepat ini dapat menjadi pelajaran
bagaimana morfologi itu berubah.
Tempat yang dahulunya lembah menjadi bukit
dan yang dahulunya bukit menjadi dataran. Ini harus dipahami betul
perilaku serta kemungkinannya.
Memang proses perubahan morfologi dan
topografi ini dapat pula terjadi secara perlahan karena erosi hujan pada
batuan yang keras, hal ini yang sering kita saksikan selama ini, dimana
proses ini tidak teramati dalam masa hidup individu manusia yang
kira-kira 60 tahun saja, Tetapi dalam proses di endapan Merapi ini dapat
teramati dalam skala mingguan bahkan harian karena endapannya belum
terlitifikasi, atau belum terbatukan, secara sempurna.
Kalau kita lihat gambar diatas, tentusaja belum tentu batu yang
“mecungul” (tersembul) ini hanya berukuran kecil. Siapa tahu yang
terkubur dibawahnya masih sangat besar.
Di
banyak tempat dijumpai rembesan seperti minyak, ini diperkirakan
dibawahnya binatang atau korban yg terkubur. Artinya dibawah ini adalah
dusun (perumahan). Perhatikan luasnya daerah terkena dampak sejauh mata
memandang.
Alur
sungai baru Sungai Gendol. Terlihat endapan piroklastika dengan
ketebalan tersingkap lebih dari 8 meter. Bahkan dibeberapa tempat
memiliki ketebalan hingga puluhan meter.
Perhatikan
ketinggian bendungan pengendali pasir (Sabo) dan bandingkan dengan
ketebalan piroklastik yang tingginya 3-4 kali lipat dari ketinggian
Sabo.
Diperkirakan Sabo ini terisi penuh dengan sedimen hanya dalam waktu
kurang dari 9 detik ketika dilalui aliran piroklastik (nuees ardentes)
Tinggi batuan yang tersembul ini hanya sekitar 1.5 meter. Namun tidak diketahui berapa diameter yang sebenarnya.
Tentunya
pada saat diendapkan piroklastik ini batuan-batuan bongkah raksasa ini
terkubur atau paling tidak sepertiga atau setengahnya supaya mampu
terangut. Ini memperlihatkan sudah terjadinya erosi permukaan. Material
yang tererosi inilah yang menjadi material penyusun lahar hujan.
Apa kira-kira dibawah endapan piroklastik yang melampar datar selebar lebih dari 2 Km ini ? Sungai atau dusun ?
Ketika batu-batu besar mulai nongol barulah terlihat apa saja dan seberapa besar bongkahan material yang terangkut.
Siapa
yang menyangka bahwa material puncak gunung Merapi sejauh 10 Km ini
akan sampai ditempat ini secara cepat dan panasnya mematikan.
Sebelum erupsi 2010 ini, dari selatan (Cangkringan) puncak Merapi
tidak terlihat adanya lubang yang menganga seperti diatas. Puncak Merapi
bagian selatan ini runtuh pada tanggal 26 Oktober 2010. Lubang yang
menganga ini menjadikan pintu baru dari Merapi yang menyebabkan luncuran
awanpanas sejauh 15 Km dari puncak pada awal November 2010.
Endapan yang dapat dilihat diatas merupakan material yang kalau
tererosi akan menjadi material lahar hujan. Material lahar hujan terdiri
atas batu bongkahan, kerakal, kerikil, hingga pasir dan juga abu.
Komposisi ini bila mengering akan dengan cepat berubah menjadi batuan
keras karena proses litifikasi (pembatuan).
Bacaan terkait :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar