Foto-foto piroklastik Merapi – Batu Gajah Bengkak

Quantcast

Dibawah ini beberapa foto lapangan dari hasil survey lapangan dengan Pak Gatot (PVMBG), Geologi UGM , berserta Direktur SAMAPTA (POLDA DIY), serta kawan-kawan dari Sekber Pecinta Alam Jogja termasuk Mermounc. Diantar oleh kawan-kawan IOF Jogja.
:( “Wah Pakdhe penjelasannya yang mudah ya, mau menyimak ilmu baru tentang gunungapi nih”
:D “Lah kalau ndak jelas ya kan tinggal koment trus tanya, gitu”
Diambil tanggal 20-21 November 2010   

Batu Gajah Bengkak ini berukuran 4x7 meter ini dijumpai di desa Pagerjurang Cangkringan. Jarak dari Puncak sekitar 10 Km. Terbawa oleh aliran piroklastik (nuee ardentees). Lihat puncak yang jauhnya sekitar 10 Km.

 


Batugajah ketika datang dan akhirnya tersingkap
Si Gajah Bengkak ini ketika terbawa tidak mungkin hanya sekedar nggelundung saja. Melihat ukuran serta beratjenis batunya tentu sewaktu terbawa disekitarnya dikelilingi oleh material-material lain beruba kerakal, kerikil, pasir serta batuan-batuan lain yang berukuran lebih kecil.
Telalu sulit seandainya batu ini menggelundung saja tanpa adanya media yang membawanya. Gravitasi serta angin jelas tidak mungkin. Awalnya kemungkinan Watu Gajah ini terkubur sebagian, namun karena erosi menyebabkan batu ini akhirnya muncul dan terlihat dipermukaan.
Kalau memang bener terjadinya seperti yang disebelah kiri ini, tentusaja ini artinya proses erosinya sangat cepat. Perubahan morfologi topografi ini memang merupakan salah satu fenomena unik saat ini yang dapat disaksikan di sekitar hasil endapan prioklastik Merapi. Proses yang berkembang sangat cepat ini dapat menjadi pelajaran bagaimana morfologi itu berubah.
Tempat yang dahulunya lembah menjadi bukit dan yang dahulunya bukit menjadi dataran. Ini harus dipahami betul perilaku serta kemungkinannya.
Memang proses perubahan morfologi dan topografi ini dapat pula terjadi secara perlahan karena erosi hujan pada batuan yang keras, hal ini yang sering kita saksikan selama ini, dimana proses ini tidak teramati dalam masa hidup individu manusia yang kira-kira 60 tahun saja, Tetapi dalam proses di endapan Merapi ini dapat teramati dalam skala mingguan bahkan harian karena endapannya belum terlitifikasi, atau belum terbatukan, secara sempurna.


Batu besar bermunculan setelah permukaan penutupnya tererosi
Kalau kita lihat gambar diatas, tentusaja belum tentu batu yang “mecungul” (tersembul) ini hanya berukuran kecil. Siapa tahu yang terkubur dibawahnya masih sangat besar.


Di banyak tempat dijumpai rembesan seperti minyak, ini diperkirakan dibawahnya binatang atau korban yg terkubur. Artinya dibawah ini adalah dusun (perumahan). Perhatikan luasnya daerah terkena dampak sejauh mata memandang.

Dibawah rembesan hitam barangkali binatang atau korban yang terkubur

Alur sungai baru Sungai Gendol. Terlihat endapan piroklastika dengan ketebalan tersingkap lebih dari 8 meter. Bahkan dibeberapa tempat memiliki ketebalan hingga puluhan meter.

Perhatikan ketinggian bendungan pengendali pasir (Sabo) dan bandingkan dengan ketebalan piroklastik yang tingginya 3-4 kali lipat dari ketinggian Sabo.
Diperkirakan Sabo ini terisi penuh dengan sedimen hanya dalam waktu kurang dari 9 detik ketika dilalui aliran piroklastik (nuees ardentes)

Tinggi batuan yang tersembul ini hanya sekitar 1.5 meter. Namun tidak diketahui berapa diameter yang sebenarnya.

Tentunya pada saat diendapkan piroklastik ini batuan-batuan bongkah raksasa ini terkubur atau paling tidak sepertiga atau setengahnya supaya mampu terangut. Ini memperlihatkan sudah terjadinya erosi permukaan. Material yang tererosi inilah yang menjadi material penyusun lahar hujan.

Bersama Pak Wartono Raharjo (Dosen Geologi UGM) sebagai narasumber.

Jarak lokasi tempat pemotretan ini lebih dari 10 Km dari puncak Merapi dikejauhan.

Ini bukan permukaan bulan. Ini padang pasir batu di Cangkringan.

Apa kira-kira dibawah endapan piroklastik yang melampar datar selebar lebih dari 2 Km ini ? Sungai atau dusun ?

Ketika batu-batu besar mulai nongol barulah terlihat apa saja dan seberapa besar bongkahan material yang terangkut.

Siapa yang menyangka bahwa material puncak gunung Merapi sejauh 10 Km ini akan sampai ditempat ini secara cepat dan panasnya mematikan.
Sebelum erupsi 2010 ini, dari selatan (Cangkringan) puncak Merapi tidak terlihat adanya lubang yang menganga seperti diatas. Puncak Merapi bagian selatan ini runtuh pada tanggal 26 Oktober 2010. Lubang yang menganga ini menjadikan pintu baru dari Merapi yang menyebabkan luncuran awanpanas sejauh 15 Km dari puncak pada awal November 2010.
Endapan yang dapat dilihat diatas merupakan material yang kalau tererosi akan menjadi material lahar hujan. Material lahar hujan terdiri atas batu bongkahan, kerakal, kerikil, hingga pasir dan juga abu. Komposisi ini bila mengering akan dengan cepat berubah menjadi batuan keras karena proses litifikasi (pembatuan).
Bacaan terkait :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Live traffic Feed